My Blog

Kontroversi Gianni Infantino Selama Memimpin FIFA: Dari Reformasi, Piala Dunia Qatar, hingga Kritik terhadap Tata Kelola

Kontroversi Gianni Infantino Selama Memimpin FIFA: Antara Reformasi dan Beragam Kritik

ZURICH – Nama Gianni Infantino identik dengan era baru FIFA setelah organisasi sepak bola dunia itu diguncang skandal korupsi besar pada 2015. Ketika terpilih sebagai Presiden FIFA pada Februari 2016, pria asal Swiss-Italia tersebut datang dengan janji melakukan reformasi, meningkatkan transparansi, dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaga yang mengatur sepak bola global.

Namun, hampir satu dekade memimpin FIFA, perjalanan Infantino tidak lepas dari berbagai kontroversi. Mulai dari hubungan dengan tokoh politik dunia, kebijakan ekspansi turnamen, penyelenggaraan Piala Dunia Qatar 2022, penggunaan jet pribadi, hingga pertanyaan mengenai tata kelola organisasi, berbagai isu tersebut terus menjadi perdebatan di kalangan pengamat, federasi, hingga pendukung sepak bola.

Di sisi lain, pendukung Infantino menilai FIFA telah mengalami pertumbuhan finansial yang signifikan, memperluas partisipasi negara anggota, serta meningkatkan pendapatan yang kemudian didistribusikan kepada federasi di seluruh dunia. Situasi ini membuat kepemimpinan Infantino sering dipandang dari dua sisi: reformasi dan modernisasi, atau konsentrasi kekuasaan yang semakin besar.


Siapa Gianni Infantino?

Gianni Infantino lahir di Brig, Swiss, pada 23 Maret 1970. Sebelum menjadi Presiden FIFA, ia dikenal sebagai Sekretaris Jenderal UEFA dan terlibat dalam berbagai proyek kompetisi sepak bola Eropa.

Infantino terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016 menggantikan era pasca-skandal korupsi yang menjerat sejumlah pejabat FIFA di bawah kepemimpinan Sepp Blatter. Ia kemudian terpilih kembali pada 2019 dan 2023.

Sebagai Presiden FIFA, Infantino mendorong sejumlah perubahan besar, termasuk penambahan jumlah peserta Piala Dunia pria menjadi 48 tim mulai 2026 serta pengembangan Piala Dunia Antarklub dengan format baru.


Janji Reformasi FIFA

Saat pertama kali menjabat, Infantino menegaskan bahwa FIFA harus menjadi organisasi yang lebih transparan dan akuntabel.

Dalam berbagai pidato resmi, ia menekankan pentingnya tata kelola yang baik serta distribusi dana yang lebih merata kepada anggota FIFA.

“FIFA harus menjadi organisasi yang melayani sepak bola di seluruh dunia,” kata Infantino dalam sejumlah pidato kongres FIFA.

Di bawah kepemimpinannya, FIFA melaporkan peningkatan pendapatan komersial dan investasi untuk program pengembangan sepak bola. Namun, sejumlah pengamat menilai reformasi tersebut belum sepenuhnya menjawab kekhawatiran tentang konsentrasi pengambilan keputusan di tingkat tertinggi FIFA.


Kontroversi Piala Dunia Qatar 2022

Salah satu kontroversi terbesar selama masa kepemimpinan Infantino adalah penyelenggaraan Piala Dunia Qatar 2022.

Turnamen tersebut menuai sorotan terkait berbagai isu, antara lain:

  • Kondisi pekerja migran dalam pembangunan infrastruktur.
  • Isu hak asasi manusia.
  • Kebijakan terkait komunitas LGBTQ+.
  • Hubungan antara FIFA dan pemerintah Qatar.

Menjelang turnamen, Infantino memberikan pidato panjang yang menjadi perhatian dunia.

“Hari ini saya merasa sebagai orang Qatar, saya merasa Arab, saya merasa Afrika,” kata Infantino dalam konferensi pers sebelum Piala Dunia 2022.

Pidato tersebut mendapat tanggapan beragam. Sebagian pihak melihatnya sebagai upaya membela tuan rumah, sementara yang lain menilai FIFA seharusnya menjaga posisi yang lebih netral.

Meski demikian, Piala Dunia Qatar 2022 secara operasional dianggap sukses dan mencatat berbagai rekor penonton serta pendapatan komersial FIFA.


Hubungan dengan Tokoh Politik Dunia

Infantino juga beberapa kali menjadi sorotan karena kedekatannya dengan sejumlah pemimpin negara.

FIFA di bawah kepemimpinannya menjalin hubungan intensif dengan berbagai pemerintah, terutama terkait penyelenggaraan turnamen besar.

Sebagian pihak menilai pendekatan tersebut penting untuk pengembangan sepak bola global, tetapi kritik muncul karena FIFA dianggap terlalu dekat dengan kepentingan politik tertentu.

Sebagai organisasi internasional, FIFA memang sering berada di persimpangan antara olahraga, ekonomi, dan diplomasi.


Kasus Pertemuan dengan Jaksa Agung Swiss

Pada 2020, muncul penyelidikan terkait pertemuan informal antara Gianni Infantino dan mantan Jaksa Agung Swiss, Michael Lauber.

Kasus tersebut menarik perhatian publik karena dilakukan ketika sejumlah penyelidikan terkait FIFA masih berlangsung.

Proses hukum kemudian berjalan di Swiss, dan beberapa perkembangan kasus sempat menjadi sorotan media internasional.

Infantino sendiri berulang kali menyatakan bahwa dirinya bertindak sesuai aturan dan mendukung transparansi.


Kritik terhadap Penggunaan Jet Pribadi

Penggunaan jet pribadi oleh pejabat olahraga internasional juga menjadi bagian dari kritik yang diarahkan kepada FIFA.

Beberapa laporan media menyoroti perjalanan Infantino ke berbagai negara menggunakan pesawat pribadi, terutama ketika FIFA sedang mengampanyekan isu keberlanjutan dan lingkungan.

Pendukung FIFA berpendapat bahwa jadwal padat Presiden FIFA membutuhkan fleksibilitas tinggi, sementara pengkritik menilai organisasi harus memberi contoh dalam kebijakan ramah lingkungan.


Ekspansi Piala Dunia 48 Tim

Salah satu keputusan paling berpengaruh di era Infantino adalah memperbesar Piala Dunia dari 32 menjadi 48 peserta mulai edisi 2026.

Pendukung kebijakan ini berpendapat bahwa lebih banyak negara mendapat kesempatan tampil di panggung dunia.

Namun, kritik muncul karena format yang lebih besar dianggap dapat menurunkan kualitas kompetisi dan memperpadat kalender sepak bola internasional.

Meski demikian, FIFA menyebut ekspansi ini akan meningkatkan distribusi pendapatan dan memperluas jangkauan sepak bola global.


Kontroversi Piala Dunia Antarklub

Perubahan format Piala Dunia Antarklub juga menimbulkan perdebatan.

Kompetisi dengan jumlah peserta lebih banyak dinilai berpotensi meningkatkan pendapatan FIFA, tetapi sejumlah pemain, klub, dan organisasi pesepak bola mengkhawatirkan beban pertandingan yang semakin padat.

Beberapa pelatih juga menyoroti risiko cedera akibat kalender yang terlalu sibuk.

FIFA sendiri menilai turnamen baru tersebut dapat meningkatkan persaingan dan memberikan kesempatan lebih luas bagi klub dari berbagai konfederasi.


Kritik terhadap Tata Kelola FIFA

Meski reformasi telah dilakukan, sejumlah organisasi pengawas tata kelola olahraga masih menilai FIFA perlu meningkatkan transparansi.

Beberapa isu yang sering menjadi perhatian antara lain:

  • Struktur pengambilan keputusan.
  • Independensi komite tertentu.
  • Transparansi kontrak komersial.
  • Pengawasan internal.

FIFA membantah tudingan tersebut dan menyatakan telah melakukan berbagai perbaikan dibanding era sebelumnya.


Prestasi di Era Gianni Infantino

Di tengah kontroversi, FIFA juga mencatat sejumlah perkembangan:

  • Pendapatan organisasi meningkat.
  • Program bantuan untuk federasi anggota diperluas.
  • Piala Dunia wanita berkembang pesat.
  • Investasi sepak bola akar rumput meningkat.
  • Partisipasi negara anggota bertambah.

Hal ini membuat penilaian terhadap kepemimpinan Infantino sering kali bergantung pada sudut pandang masing-masing pihak.


FAQ

Siapa Gianni Infantino?

Gianni Infantino adalah Presiden FIFA sejak 2016 dan sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal UEFA.

Apa kontroversi terbesar Gianni Infantino?

Piala Dunia Qatar 2022, hubungan dengan tokoh politik, tata kelola FIFA, dan ekspansi turnamen internasional menjadi beberapa isu utama.

Apakah FIFA berubah di era Infantino?

FIFA mencatat peningkatan pendapatan dan perluasan program pengembangan, tetapi juga menghadapi kritik terkait transparansi dan konsentrasi kekuasaan.

Mengapa Piala Dunia 48 tim diperdebatkan?

Karena dianggap memperluas kesempatan bagi lebih banyak negara, tetapi juga dikhawatirkan menurunkan kualitas kompetisi dan memperpadat kalender pertandingan.


 

Ditulis oleh: Redaksi Bandarbolasbo.org
Update terakhir: 1 Agustus 2026
Editor: ss.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *